Sabtu, 30 November 2019

GANGGUAN BERBAHASA (GANGGUAN BERBICARA, BERBAHASA, BERFIKIR, DAN LINGKUNGAN SOSIAL)


GANGGUAN BERBAHASA
(GANGGUAN BERBICARA, BERBAHASA, BERFIKIR, DAN LINGKUNGAN SOSIAL)

Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Ilmu Al-Lughoh Al-Nafsi Wa Al-Ijtima’i









Disusun Oleh:
Ulfa Ulinuha
NIM: 210514070 /  PBA.B
Dosen Pengampu:
Dr. Muh. Munir. Lc, M.Ag.
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN PONOROGO
2017
PENDAHULUAN
A.     PENDAHULUAN
Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika, dan enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak, sedangkan enkode fonologi dimulai dari otk lalu dilanjutkan pelaksanaanya oleh alat-alat bicara yang melibatkan sistem saraf otak (neuromiskuler) bicara dari otot tenggorokan, otot lidah, otot bibir, mulut, langit-langit, rongga hidung, pita suara dan paru-paru. Karena itu, dapat diakatakan bahwa berbahasa adalah proses mengeluarkan pikiran dan perasaan (dari otak) secara lisan, dalam bentuk kata-kata atau kalimat-kalimat.
Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelaianan fungsi otak dan alat bicaranya, tentu mempunyai  kesulitan dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif. Jadi, kemampuanya berbahsanya terganggu.[1]
Oleh karena itu pastilah berbeda antara manusia yang dalam tatanan bahasanya normal serta manusia yang mengalami ganguan dalam bahasanya, oleh karenanya pemakalah mengangkat sebuah judul dalam makalah ini dengan judul “GANGGUAN BERBAHASA (GANGGUAN BERBICARA, BERBAHASA, BERFIKIR, DAN LINGKUNGAN SOSIAL)

B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa hakikat bahasa?
2.      Apa saja macam-macam ganguan berbicara?







PEMBAHASAN
A.     Hakikat bahasa
Bahasa pada hakikatnya berbahasa merupakan suatu kegiatan alamiah yang sama halnya dengan bernapas yang kita tidak memikirkannya.
Yang membedakan bahasa dari bentuk komunikasi lainya meliputi empat hal berikut ini:
1.      Bahasa bersifat sengaja
2.      Bahasa bersifat simbolis
3.      Bahasa bersifat sistematis
4.      Bahasa berfungsi dalam dua modalitas yang berbeda yaitu lisan dan tulisan. Lisan atau tutur bersifat lebih utama, mengingat tulisan di temukan sebagai  produk lisan. Kita memperoleh kemampuan mendengar dan berbicara sebelum kita mampu membaca dan menulis.[2]
B.     Macam-macam ganguan berbahasa
Ganguan berbahasa ini secara garis besar di bagi menjadi dua, pertama gangguan akibat faktor medis, dan kedua  akibat faktor lingkuangan sosial. Yang dimaksud dengan gangguan faktor medis adalah gangguan akibat fungsi otak maupun akibat kelainan alat-alat bicara. Sedangkan yang di maksud faktor lingkungan sosial adalah lingkungan kehidupan yang tidak alamiah manusia, seperti tersisih atau terisolasi dari lingkungan kehidupan masyarakat manusia yang sewajarnya.
Secara medis, shidarta ganguan berbahasa dapat dibedakan menjadi empat golongan,yaitu gangguan berbicara, gangguan berbahasa, gangguan berfikir, dan gangguan lingkungan sosial.keempat gangguan ini masih dapat diatasi kalau penderita mempunyai daya pendengaran yang normal, bila tidak tentu menjadi sukar atau sangat sukar.[3]
1.      Gangguan berbicara
Berbicara merupakan aktifitas motorik yang mengandung modalitas psikis. Oleh akrena itu gangguan berbicara dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu:[4]
a.       Gangguan mekanisme berbicara.
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan  oelh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah, otot-otot yang membentuk ronggo mulut serta kerongkongan dan paru-paru.  Beberapa faktor gangguan berbicara antara lain,


1)      Faktor pulmonal
Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru. Yang mana penderita paru-paru kesulitan dalam pernafasan sehingga cara bicaranya menggunakan nada monoton, volume kecil dan putus-putus meskipun dari segi semantik dan sintaksis tidak ada masalah.
2)      Faktor laringan
Gangguan pada pita suara menyembabkan suara yang dihasilkan menjadi serak dan hilang sama sekali.
3)      Faktor lingual
Lidah yang sariawan atau terluka akan terasa pedih kalau digerakkan, makauntuk mengurangi rasa sakit ini pembicara lebih mengurangi  aktifitas lidah dan timbullah suara yang kurang jelas dan kurang enak didengar.

4)      Faktor resonasi (dengungan)
Gangguan akibat faktor resonasi ini menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi bersengau (seperti orang sedang influenza).
b.      Gangguan akibat multifaktorial
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor dapat mengakibatkan terjadinya gangguan berbicara, anatara lain sebagai berikut:
1)      Berbicara srampangan
Berbicara srampangan atau sembrono adalah berbicara dengan cepat sekali, dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan menelan sejumlah suku kata, sehingga apa yang diucapkan sukar untuk dipahami.
2)      Berbicara propulsi
Gangguan ini biasanya terdapat pada para penderita penyakit parkinson (kerusakan iotak yang menyebabkan otot menjadi gemetar dan kaku serta lemah).
3)      Berbicara mutis (mutisme)
Penderita gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali, atau dalam KBBI mengatakan bahwa mutisme adalah keadaan sesorang yang tidak mempunyai kemampuan berbicara  atau latah. Namun sebagian dari mereka mungkin masih dapat dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak mau berbicara.


c.       Gangguan psikogenik
Gangguan dalam hal ini sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai gangguan dalam berbicara, namun lebih tepatnya yaitu variasi cara berbicara yang normal,  tetapi ada sedikit gangguan pada bidang mental. Yang mana ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat dapat juga mencerminkan mental si pembicara. Adapun gangguan psikogenetik ini antara lain,[5]
1)      Berbicara manja
Disebut manja karena ada kesan dimana seseorang melakukanya meminta perhatian untuk dimanja. Gejala ini memberikan kesan bahwa struktur bahasa memiliki substrat serabai (dasar tidak baku).
2)      Berbicara kemayu
Berbicara kemyu merupakan istilah dari sidharta yang mana berkaiatan erat dengan perangai kewanitaan yang berlebihan.


3)      Berbicara gagap
Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama.
4)      Berbicara latah
Latah sering disamakan dengan ekolalla yaitu membeo atu menirukan apa yang diucapkan oleh orang lain. Tetapi sebenarnyalatah adalah sindrom yang terdiri atas curahan verbal repetitif yang bersifat koprolalla dan gangguan lokomotorik yang dapat di pancing.
2.      Gangguan berbahasa
Berbahasa berkomukasi dengan menggunakan suatu bahasa.  Proses produksi kata-kata berlangsung terus sejlan dengan proses pengembangan pengenalan dan pengertian.  Dengan perkembangan tersebut kata-kata akan menjadi suatu perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata yang mengandung makna.
Gangguan berbicara ini dikarenakan hilangnya sebagian atau seluruh kemampuan bicara karena penyakit, cacat atau cidera pada otak atau di sebut dengan afasia. Menurut Benson afasia diobedakan menkadi dua yaitu afasia motorik dan afasia sensorik, adapun penjelasanya sebagai berikut:
a.       Afasia motorik
Kerusakan pada belahan otak yang dominan dapat menyebabkan terjadinya afasia motorik.  Afasia motorik ada tiga macam, antara lain:
1)      Afasia motorik kartikal
Tempat menyimpan sandi-sandi perkataan adalah korteks daerah broca. Maka apabila gudang penyimpanan itu musnah, tidak akan ada lagi perkataan yang dapat dikeluarkan. Jadi afasis motorik adalah hilangnya kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Penderitanya masih mengerti bahasa lisan dan tulisan, namun ekspresi verbal tidak bisa sama sekali.
2)      Afasia motorik subkortikal
           Sandi-sandi perkataan disimpan dilapisan permukaan (korteks) daerah broca, maka apabila kerusakan terjadi pada bagian bawahnya (subkortikal) semua perkataan masih tersimpan utuh di dalam gudang. Namun perkataan itu tidak dapat dikeluarkan karena terputus dan perintah7, sehingga ekspresi verbal masih mungkin dengan pancingan jadi penderitanya tidak dapat mengeluarkan isi pikiranya dengan menggunakan perkataan, tetapi masih bisa berekspresi verbal dengan membeo.
3)      Afasia motorik transkortikal
           Afasia motorik transkortikal terjadi karena terganggunya hubungan langsung antara daerah broca dan wernice. Ini berarti hubungan langsung antara daerah pengertian dan ekspresi bahasa terganggu.
b.      Afasia sensorik
Penyebab terjadinya afasia sensorik adalah akibat adanya kerusakan pada lesikortikal di daerah wernice pada hemisferium yang dominan. Kerusakan didaerah wernice ini menyebabkan bukan saja pengertian apa yang didengar terganggu, tetapi juga pengertian dari apa yang dilihat ikut terganggu. Jadi penderita afasia sensorik ini kehilangan pengertian bahsa lisan dan bahasa tulis. Namun dia masih memiliki curah verbal meskipun hal itu tidak dipahami oleh dirinya sendiri maupun orang lain.[6]
3.      Gangguan berfikir
Dalam sosiolinguistik ada diakatakan bahwa setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan perkataan-perkataan yang disukainya sehingga corak bahasanya adalah khas bagi dirinya. Dalam memilih dan menggunakan unsur leksikal, sintesis dan semantik tertentu seseorang menyiratkan efeksi dan nilai pribadinya pada kata-kata dan kalimat-kalimat yang dibuatnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekspresi verbal yang terganggu bersumber atau disebabkan oleh pemikiran yang terganggu. Ekspresi verbal yang sebagai akibat dari gangguan pemikiran dapat berupa hal-hal berikut,
a.       Pikun (Demensia)
Dr. Martina Wiwie S.Nasrun mengatakan bahwa kepikunan atau demensia adalah suatu penurunan fungsi memori atau daya ingat dan daya pikir lainya yang hari ke hari semakin memburuk. Gangguan kognitif ini meliputi terganggunya ingatan jangka pendek, kekeliruan mengenai tempat, orang, dan waktu. Juga gangguan kelancaran berbicara.
b.      Sisofrenik
Sisofronik adalah gangguan bahasa akibat gangguan berfikir. Seseorang penderita sisofenik dapat berbicara terus menerus. Ocehanya hanya merupakan ulangan curah verbal semula dengan tambahan-tambahan sedikit atau dikurangi beberapa kalimat.
c.       Depresif
Orang yang tertekan jiwanya memproyeksikan penderitaanya pada gaya bahasanya dan makna curah verbalnya. Volume curah verbalnya lemah lembut dan kelancaranya terputus-putus oleh interval yang cukup panjang. Namun, arah arus isi pikiran tidak terganggu. Kelancaran bicaranya terputus oleh tarikan napas dalam, serta pelepasan napas keluar yang panjang.
4.      Gangguan lingkungan sosial
Yang dimaksud dengan akibat faktor lingkungan adalah terasingnya seorang anak manusia, yang aspek biologis bahasannya normal dari lingkungan kehidupan manusia. Keterasingannya bisa disebabkan karena diperlukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan karena hidup dalam alam lingkungan manusia.[7]







DAFTAR PUSTAKA
Abdul chaer. Psikolinguistik (kajian teoritik). Jakarta:Rineka cipta,2009.
Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar Psikolinguistik. Jakarta: Prestasi Pustaka,2015.
Rohmani Nur Indah, Gangguan Berbahasa. Malang: UIN Malang Press, 2012.


[1] Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar Psikolinguistik. (Jakarta: Prestasi Pustaka,2015). Hal 145
[2] Rohmani Nur Indah, Gangguan Berbahasa. (Malang: UIN Malang Press, 2012) hal 2-3
[3] Abdul Chaer, Psikolinguistik Kajian Teoritik. (Jakarta: Rineka Cipta,2003) hal 148
[4] Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar Psikolinguistik. Hal 146
[5] Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar Psikolinguistik. Hal 146-147
[6]Abdul chaer. Psikolinguistik (kajian teoritik). (Jakarta:Rineka cipta,2003) hal 154-158
[7] Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar Psikolinguistik. (Jakarta: Prestasi Pustaka,2015). Hal 148-150