GANGGUAN BERBAHASA
(GANGGUAN BERBICARA, BERBAHASA, BERFIKIR, DAN
LINGKUNGAN SOSIAL)
Makalah ini
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
“Ilmu Al-Lughoh Al-Nafsi Wa Al-Ijtima’i”
Disusun Oleh:
Ulfa Ulinuha
NIM: 210514070 / PBA.B
Dosen Pengampu:
Dr. Muh. Munir.
Lc, M.Ag.
JURUSAN PENDIDIKAN
BAHASA ARAB
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
IAIN PONOROGO
2017
PENDAHULUAN
A. PENDAHULUAN
Proses berbahasa dimulai dengan enkode semantik, enkode gramatika, dan
enkode fonologi. Enkode semantik dan enkode gramatika berlangsung dalam otak,
sedangkan enkode fonologi dimulai dari otk lalu dilanjutkan pelaksanaanya oleh
alat-alat bicara yang melibatkan sistem saraf otak (neuromiskuler)
bicara dari otot tenggorokan, otot lidah, otot bibir, mulut, langit-langit,
rongga hidung, pita suara dan paru-paru. Karena itu, dapat diakatakan bahwa
berbahasa adalah proses mengeluarkan pikiran dan perasaan (dari otak) secara
lisan, dalam bentuk kata-kata atau kalimat-kalimat.
Manusia yang normal fungsi otak dan alat bicaranya, tentu dapat berbahasa
dengan baik. Namun, mereka yang memiliki kelaianan fungsi otak dan alat
bicaranya, tentu mempunyai kesulitan
dalam berbahasa, baik produktif maupun reseptif. Jadi, kemampuanya berbahsanya
terganggu.[1]
Oleh karena itu pastilah berbeda antara manusia yang dalam tatanan
bahasanya normal serta manusia yang mengalami ganguan dalam bahasanya, oleh
karenanya pemakalah mengangkat sebuah judul dalam makalah ini dengan judul “GANGGUAN
BERBAHASA (GANGGUAN BERBICARA, BERBAHASA, BERFIKIR, DAN LINGKUNGAN SOSIAL)
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa hakikat bahasa?
2. Apa saja macam-macam ganguan berbicara?
PEMBAHASAN
A. Hakikat bahasa
Bahasa pada hakikatnya berbahasa merupakan suatu kegiatan alamiah yang sama
halnya dengan bernapas yang kita tidak memikirkannya.
Yang membedakan bahasa dari bentuk komunikasi lainya meliputi empat hal
berikut ini:
1.
Bahasa bersifat
sengaja
2.
Bahasa bersifat
simbolis
3.
Bahasa bersifat
sistematis
4.
Bahasa
berfungsi dalam dua modalitas yang berbeda yaitu lisan dan tulisan. Lisan atau
tutur bersifat lebih utama, mengingat tulisan di temukan sebagai produk lisan. Kita memperoleh kemampuan
mendengar dan berbicara sebelum kita mampu membaca dan menulis.[2]
B. Macam-macam ganguan berbahasa
Ganguan berbahasa ini secara garis besar di bagi menjadi dua, pertama gangguan
akibat faktor medis, dan kedua akibat faktor lingkuangan sosial. Yang
dimaksud dengan gangguan faktor medis adalah gangguan akibat fungsi otak maupun
akibat kelainan alat-alat bicara. Sedangkan yang di maksud faktor lingkungan
sosial adalah lingkungan kehidupan yang tidak alamiah manusia, seperti tersisih
atau terisolasi dari lingkungan kehidupan masyarakat manusia yang sewajarnya.
Secara medis, shidarta ganguan berbahasa dapat dibedakan menjadi empat
golongan,yaitu gangguan berbicara, gangguan berbahasa, gangguan berfikir, dan
gangguan lingkungan sosial.keempat gangguan ini masih dapat diatasi kalau
penderita mempunyai daya pendengaran yang normal, bila tidak tentu menjadi
sukar atau sangat sukar.[3]
1.
Gangguan
berbicara
Berbicara merupakan aktifitas motorik yang
mengandung modalitas psikis. Oleh akrena itu gangguan berbicara dapat
dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu:[4]
a. Gangguan mekanisme berbicara.
Mekanisme berbicara adalah suatu proses produksi ucapan oelh kegiatan terpadu dari pita suara, lidah,
otot-otot yang membentuk ronggo mulut serta kerongkongan dan paru-paru. Beberapa faktor gangguan berbicara antara
lain,
1) Faktor pulmonal
Gangguan berbicara ini dialami oleh para penderita penyakit paru-paru. Yang
mana penderita paru-paru kesulitan dalam pernafasan sehingga cara bicaranya
menggunakan nada monoton, volume kecil dan putus-putus meskipun dari segi
semantik dan sintaksis tidak ada masalah.
2) Faktor laringan
Gangguan pada pita suara menyembabkan suara yang dihasilkan menjadi serak
dan hilang sama sekali.
3) Faktor lingual
Lidah yang sariawan atau terluka akan terasa pedih kalau digerakkan,
makauntuk mengurangi rasa sakit ini pembicara lebih mengurangi aktifitas lidah dan timbullah suara yang
kurang jelas dan kurang enak didengar.
4) Faktor resonasi (dengungan)
Gangguan akibat faktor resonasi ini menyebabkan suara yang dihasilkan
menjadi bersengau (seperti orang sedang influenza).
b. Gangguan akibat multifaktorial
Akibat gangguan multifaktorial atau berbagai faktor dapat mengakibatkan
terjadinya gangguan berbicara, anatara lain sebagai berikut:
1) Berbicara srampangan
Berbicara srampangan atau sembrono adalah berbicara dengan cepat sekali,
dengan artikulasi yang rusak, ditambah dengan menelan sejumlah suku kata,
sehingga apa yang diucapkan sukar untuk dipahami.
2) Berbicara propulsi
Gangguan ini biasanya terdapat pada para penderita penyakit parkinson
(kerusakan iotak yang menyebabkan otot menjadi gemetar dan kaku serta lemah).
3) Berbicara mutis (mutisme)
Penderita gangguan mutisme ini tidak berbicara sama sekali, atau dalam KBBI
mengatakan bahwa mutisme adalah keadaan sesorang yang tidak mempunyai kemampuan
berbicara atau latah. Namun sebagian
dari mereka mungkin masih dapat dianggap membisu, yakni memang sengaja tidak
mau berbicara.
c. Gangguan psikogenik
Gangguan dalam hal ini sebenarnya kurang tepat jika disebut sebagai
gangguan dalam berbicara, namun lebih tepatnya yaitu variasi cara berbicara
yang normal, tetapi ada sedikit gangguan
pada bidang mental. Yang mana ujaran yang berirama lancar atau tersendat-sendat
dapat juga mencerminkan mental si pembicara. Adapun gangguan psikogenetik ini
antara lain,[5]
1) Berbicara manja
Disebut manja karena ada kesan dimana seseorang melakukanya meminta
perhatian untuk dimanja. Gejala ini memberikan kesan bahwa struktur bahasa
memiliki substrat serabai (dasar tidak baku).
2) Berbicara kemayu
Berbicara kemyu merupakan istilah dari sidharta yang mana berkaiatan erat
dengan perangai kewanitaan yang berlebihan.
3) Berbicara gagap
Gagap adalah berbicara yang kacau karena sering tersendat-sendat, mendadak
berhenti, lalu mengulang-ulang suku kata pertama.
4) Berbicara latah
Latah sering disamakan dengan ekolalla yaitu membeo atu menirukan apa yang
diucapkan oleh orang lain. Tetapi sebenarnyalatah adalah sindrom yang terdiri
atas curahan verbal repetitif yang bersifat koprolalla dan gangguan lokomotorik
yang dapat di pancing.
2.
Gangguan
berbahasa
Berbahasa berkomukasi dengan menggunakan suatu
bahasa. Proses produksi kata-kata
berlangsung terus sejlan dengan proses pengembangan pengenalan dan
pengertian. Dengan perkembangan tersebut
kata-kata akan menjadi suatu perkataan yang merupakan abstraksi atau kata-kata
yang mengandung makna.
Gangguan berbicara ini dikarenakan hilangnya
sebagian atau seluruh kemampuan bicara karena penyakit, cacat atau cidera pada
otak atau di sebut dengan afasia. Menurut Benson afasia diobedakan menkadi dua
yaitu afasia motorik dan afasia sensorik, adapun penjelasanya sebagai berikut:
a. Afasia motorik
Kerusakan pada belahan otak yang dominan dapat menyebabkan terjadinya
afasia motorik. Afasia motorik ada tiga
macam, antara lain:
1) Afasia motorik kartikal
Tempat menyimpan sandi-sandi perkataan adalah korteks daerah broca. Maka
apabila gudang penyimpanan itu musnah, tidak akan ada lagi perkataan yang dapat
dikeluarkan. Jadi afasis motorik adalah hilangnya kemampuan untuk mengutarakan
isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Penderitanya masih mengerti bahasa
lisan dan tulisan, namun ekspresi verbal tidak bisa sama sekali.
2) Afasia motorik subkortikal
Sandi-sandi perkataan
disimpan dilapisan permukaan (korteks) daerah broca, maka apabila kerusakan
terjadi pada bagian bawahnya (subkortikal) semua perkataan masih tersimpan utuh
di dalam gudang. Namun perkataan itu tidak dapat dikeluarkan karena terputus dan
perintah7, sehingga ekspresi verbal masih mungkin dengan pancingan jadi
penderitanya tidak dapat mengeluarkan isi pikiranya dengan menggunakan
perkataan, tetapi masih bisa berekspresi verbal dengan membeo.
3) Afasia motorik transkortikal
Afasia motorik transkortikal
terjadi karena terganggunya hubungan langsung antara daerah broca dan wernice.
Ini berarti hubungan langsung antara daerah pengertian dan ekspresi bahasa
terganggu.
b. Afasia sensorik
Penyebab terjadinya afasia sensorik adalah akibat adanya kerusakan pada
lesikortikal di daerah wernice pada hemisferium yang dominan. Kerusakan
didaerah wernice ini menyebabkan bukan saja pengertian apa yang didengar
terganggu, tetapi juga pengertian dari apa yang dilihat ikut terganggu. Jadi
penderita afasia sensorik ini kehilangan pengertian bahsa lisan dan bahasa
tulis. Namun dia masih memiliki curah verbal meskipun hal itu tidak dipahami
oleh dirinya sendiri maupun orang lain.[6]
3.
Gangguan
berfikir
Dalam sosiolinguistik ada diakatakan bahwa
setiap orang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan perkataan-perkataan yang
disukainya sehingga corak bahasanya adalah khas bagi dirinya. Dalam memilih dan
menggunakan unsur leksikal, sintesis dan semantik tertentu seseorang
menyiratkan efeksi dan nilai pribadinya pada kata-kata dan kalimat-kalimat yang
dibuatnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ekspresi verbal yang
terganggu bersumber atau disebabkan oleh pemikiran yang terganggu. Ekspresi
verbal yang sebagai akibat dari gangguan pemikiran dapat berupa hal-hal
berikut,
a. Pikun (Demensia)
Dr. Martina Wiwie S.Nasrun mengatakan bahwa kepikunan atau demensia adalah
suatu penurunan fungsi memori atau daya ingat dan daya pikir lainya yang hari
ke hari semakin memburuk. Gangguan kognitif ini meliputi terganggunya ingatan
jangka pendek, kekeliruan mengenai tempat, orang, dan waktu. Juga gangguan
kelancaran berbicara.
b. Sisofrenik
Sisofronik adalah gangguan bahasa akibat gangguan berfikir. Seseorang
penderita sisofenik dapat berbicara terus menerus. Ocehanya hanya merupakan
ulangan curah verbal semula dengan tambahan-tambahan sedikit atau dikurangi
beberapa kalimat.
c. Depresif
Orang yang tertekan jiwanya memproyeksikan penderitaanya pada gaya
bahasanya dan makna curah verbalnya. Volume curah verbalnya lemah lembut dan
kelancaranya terputus-putus oleh interval yang cukup panjang. Namun, arah arus
isi pikiran tidak terganggu. Kelancaran bicaranya terputus oleh tarikan napas
dalam, serta pelepasan napas keluar yang panjang.
4.
Gangguan
lingkungan sosial
Yang dimaksud dengan akibat faktor lingkungan
adalah terasingnya seorang anak manusia, yang aspek biologis bahasannya normal
dari lingkungan kehidupan manusia. Keterasingannya bisa disebabkan karena
diperlukan dengan sengaja (sebagai eksperimen) bisa juga karena hidup bukan
karena hidup dalam alam lingkungan manusia.[7]
DAFTAR PUSTAKA
Abdul chaer.
Psikolinguistik (kajian teoritik). Jakarta:Rineka cipta,2009.
Anas Ahmadi dan Muhmmad Jauhar. Dasar-dasar
Psikolinguistik. Jakarta: Prestasi Pustaka,2015.
Rohmani Nur Indah, Gangguan Berbahasa. Malang:
UIN Malang Press, 2012.